MURID ADALAH ASET AKHIRAT
Oleh: Muhammad Yasin, M.Pd., C.H., CIBT
Dalam perjalanan panjang di dunia pendidikan, kita seringkali menjumpai fenomena di mana sekolah berubah menjadi tempat yang sibuk secara administratif namun terasa sunyi secara spiritual. Sebagai pendahuluan, kita perlu menyadari bahwa setiap murid yang duduk di hadapan kita bukanlah sekadar angka dalam daftar absen atau objek akademik yang harus dijejali materi pelajaran. Mereka adalah titipan Tuhan yang membawa potensi luar biasa untuk menjadi amal jariyah bagi pendidiknya. Memandang murid sebagai "Aset Akhirat" berarti kita sedang meletakkan dasar bagi investasi masa depan yang keuntungannya tidak akan pernah habis tergerus oleh waktu, karena keberhasilannya diukur dari kebermanfaatan ilmu yang terus mengalir melampaui usia sang guru itu sendiri.
Namun, realita hari ini menunjukkan sebuah masalah besar yang sering kita hadapi bersama, yaitu pergeseran peran guru yang cenderung terjebak hanya sebagai pengajar atau instructor (pemberi instruksi). Dalam kondisi ini, fokus utama pendidik sering kali hanya tertuju pada aspek kognitif atau transfer pengetahuan semata. Guru merasa sudah gugur kewajibannya jika materi dalam buku sudah habis tersampaikan dan murid mampu menjawab soal ujian dengan nilai tinggi. Masalahnya, penguasaan materi tanpa sentuhan karakter hanya akan melahirkan individu yang pintar secara intelektual namun gersang secara moral. Sebagaimana dikhawatirkan dalam banyak literatur psikologi pendidikan, proses belajar yang hanya mengandalkan hafalan tanpa pemaknaan akan membuat ilmu tersebut cepat hilang dan tidak membekas pada perilaku siswa dalam kehidupan nyata mereka.
Sebagai solusi atas kegelisahan tersebut, kita perlu melakukan transformasi paradigma dari sekadar pengajar menjadi pendidik sejati. Solusi ini berakar pada pemikiran Thomas Lickona dalam bukunya Educating for Character (Mendidik untuk Karakter), di mana ia menekankan bahwa pendidikan karakter harus menjadi upaya sengaja untuk membantu murid memahami dan mempraktikkan nilai-nilai kebaikan. Secara konkret, pendidik harus mampu menerapkan pendekatan humanistik atau human centered approach (pendekatan yang berpusat pada manusia) seperti yang dicetuskan oleh Carl Rogers, di mana kita mengutamakan rasa aman dan penerimaan positif terhadap murid sebelum memberikan materi pelajaran. Ketika hati murid sudah terpikat dan merasa dihargai sebagai manusia, maka proses transfer nilai akan jauh lebih mudah dilakukan karena hubungan emosional telah terbangun dengan kuat.
Lebih jauh lagi, solusi praktis lainnya adalah dengan menjadi teladan atau modeling (permodelan) yang konsisten, selaras dengan teori Social Learning (pembelajaran sosial) dari Albert Bandura. Kita harus menyadari bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung; mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, integritas seorang guru adalah kurikulum hidup yang paling ampuh. Selain itu, pendidik perlu memberikan dukungan secara bertahap atau scaffolding (pemberian bantuan secara perlahan) sebagaimana teori Lev Vygotsky, guna menuntun murid melewati zona perkembangan mereka hingga mencapai kemandirian. Dengan memadukan kasih sayang, keteladanan, dan tuntunan yang tepat, kita tidak hanya sedang menyiapkan murid untuk lulus sekolah, tetapi sedang membangun fondasi bagi aset akhirat kita sendiri melalui karakter luhur yang mereka miliki.
Referensi :
- Lickona, Thomas. (2012). Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
- Dewantara, Ki Hadjar. (2013). Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka. Yogyakarta: UST-Press.
- Bandura, Albert. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.
- Uno, Hamzah B. (2023). Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.